Dukung SDGs Zero Hunger

Diana Wuri 12 Juni 2026 12:57:57 WIB

Dukung SDGs Zero Hunger, Mahasiswa UNY Soroti Kiprah Lumbung Mataraman Wukirsari dalam Swasembada Pangan

Oleh: Imam Taufiq, Sinta Mustika, Ivena Dahayu, Nashifa Erningtyas

WUKIRSARI — Ketergantungan pasokan pangan dari luar daerah masih menjadi tantangan nyata di tingkat kalurahan. Guna mengulik strategi pemenuhan gizi lokal secara mandiri, sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengunjungi Lumbung Mataraman di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Sabtu (06/06/2026).

Langkah ini diambil untuk melihat dari dekat keterkaitan antara pengelolaan pangan di tingkat desa dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) poin kedua, yakni Tanpa Kelaparan (Zero Hunger).

Program yang diinisiasi oleh Pemerintah Kalurahan Wukirsari melalui dukungan Dana Keistimewaan (Danais) DIY ini telah memasuki tahun kedua. Proyek tersebut dirancang sebagai percontohan (blueprint) ketahanan pangan mandiri yang dikelola gotong royong oleh warga, gabungan kelompok tani (gapoktan), dan pemuda setempat.

Ruang Edukasi Pertanian Modern

Pengelola Lumbung Mataraman Wukirsari, Rangga, menjelaskan bahwa proyek ini tidak hanya bertujuan untuk menanam, tetapi juga berfungsi sebagai pusat edukasi bagi para petani tradisional di Wukirsari agar bisa mengadopsi sistem pangan yang lebih efektif.

"Diharapkan Lumbung Mataraman ini jadi plasenta atau blueprint lah setidaknya untuk dapat dicontoh oleh petani-petani lokal yang ada di sini... dengan mekanisme yang lebih efektif, yang lebih modern, dan lain sebagainya. Karena ini juga sekaligus menjadi edukasi bagi masyarakat lokal," kata Rangga kepada mahasiswa UNY saat menjelaskan fungsi dasar program tersebut.

Saat ini, komoditas penghasil gizi yang ditanam di sana meliputi cabai rawit, cabai merah, melon, timun, hingga bawang merah. Tidak hanya sayur dan buah, lumbung ini juga mengelola sektor peternakan domba serta budidaya burung puyuh yang mampu menghasilkan hingga 1.000 butir telur setiap sorenya sebagai sumber protein yang terjangkau untuk memenuhi kebutuhan harian warga sekitar.

Memotong Rantai Distribusi demi Pangan Murah

Salah satu indikator penting dalam target Zero Hunger adalah menjamin masyarakat lapisan bawah mendapatkan akses pangan yang aman, bergizi, dan cukup sepanjang tahun. Di Wukirsari, hal ini disiasati dengan menekan kesenjangan (gap) antara tingginya permintaan pasar dan minimnya pasokan pangan di tingkat kelurahan.

Rangga memaparkan bahwa fokus utama dari lumbung ini adalah memotong ketergantungan suplai dari luar daerah. Dengan memproduksi sendiri secara lokal, harga jual di tingkat konsumen bisa ditekan menjadi jauh lebih murah dan ramah kantong.

"Visinya... diharapkan ini bisa menjadi program swasembada yang memenuhi permintaan masyarakat lokal... Dan untuk misinya kita akan menyediakan harga pangan yang sangat murah dan yang sangat terjangkau kepada masyarakat, yang bisa memenuhi kebutuhan mereka," tambah Rangga.

Seluruh hasil panen diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan dapur warga sekitar serta pasokan bagi warung-warung kelontong desa dengan harga miring, sebelum sisanya dijual ke mitra di luar daerah.

Pertanian Berkelanjutan di Tengah Ketidakpastian Cuaca

Selain keterjangkauan harga, SDGs Zero Hunger juga menuntut adanya sistem produksi pangan yang tangguh terhadap perubahan iklim. Sadar akan tantangan cuaca ekstrem yang kerap memicu gagal panen, pengelola lumbung kini mulai menyusun pemetaan musim tanam yang lebih terstruktur.

Pihak lumbung aktif berkonsultasi dengan konsultan ahli serta jaringan akademisi untuk menentukan jenis tanaman yang tepat di setiap musim. Di sisi lain, aspek kelestarian lingkungan jangka panjang juga diperhatikan lewat penerapan konsep circular economy atau ekosistem tanpa limbah. Sisa kotoran hewan (kohe) dari kandang domba tidak dibuang begitu saja, melainkan ditampung di ruang khusus untuk diolah kembali menjadi pupuk organik penguat kesuburan tanah.

Melalui integrasi pertanian ramah lingkungan dan keterlibatan aktif masyarakat lokal, hasil peninjauan mahasiswa UNY ini menunjukkan bahwa Lumbung Mataraman Wukirsari berhasil menjadi benteng pertahanan gizi yang konkret di tingkat tapak. Langkah mandiri ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemenuhan pangan yang merata dan berkelanjutan bisa dimulai dari pemanfaatan potensi lokal desa.

Belum ada komentar atas artikel ini, silakan tuliskan dalam formulir berikut ini

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

Survei Kepuasan Masyarakat

APBKAL TA 2025

PESONA DESA WISATA WUKIRSARI

Desa Budaya Wukirsari

REALISASI APBKAL TA 2025

Lagu Indonesia Raya

Profil Kalurahan Wukirsari 2025

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung
Kebijakan Privasi

Website desa ini berbasis Aplikasi Sistem Informasi Desa (SID) Berdaya yang diprakarsai dan dikembangkan oleh Combine Resource Institution sejak 2009 dengan merujuk pada Lisensi SID Berdaya. Isi website ini berada di bawah ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Attribution-NonCommercial-NoDerivatives 4.0 International (CC BY-NC-ND 4.0) License