Laporan Singkat Hasil Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Wukirsari

01 Februari 2017 14:55:50 WIB

Bersama ini kami sampaikan laporan singkat hasil pemeriksaan lapangan Tim Pasca Bencana Gerakan Tanah di Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebagai berikut :

1. Lokasi dan Waktu Kejadian Gerakan Tanah:

Gerakan tanah terjadi di Kampung Giriloyo, Desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan tanah ini terletak pada koordinat: 110° 24' 21.5" BT dan 07° 55' 11.8" LS yang mulai terlihat jelas pada hari Jumat, 23 Januari 2015. Gerakan tanah terjadi secara perlahan-lahan selama beberapa hari sebelumnya.

 

  1. Kondisi daerah bencana:a. Morfologi:

Secara umum daerah bencana merupakan wilayah perbukitan memanjang berarah timurlaut-baratdaya dengan ketinggian tempat di atas 90 m di atas permukaan laut. Kemiringan lereng secara umum agak terjal sampai terjal, terdapat pemotongan lereng yang digunakan sebagai lahan pemukiman, sehingga stabilitas lereng terganggu.

b. Geologi:

Berdasarkan Peta Geologi Lembar Yogyakarta, Jawa (Rahardjo, P3G, 1995) daerah bencana tersusun oleh Formasi Semilir (Tmse), yang terdiri dari perselingan antara breksi-tuf, breksi batuapung, tuf dasit dan tuf andesit serta batulempung tufan. Tanah pelapukan di lokasi ini berupa lempung pasiran dengan batuan dasar tuf pasiran berwarna coklat terang, lunak, dan porous, dengan ketebalan tanah <1 – 2 meter.

 

c. Tata guna lahan:

Pada bagian atas lokasi bencana terdapat hutan jati, hutan campuran, di lokasi bencana berupa pemukiman dan hutan campuran.

 

d. Keairan:

Kondisi keairan di daerah bencana berupa mata air yang muncul pada kontak antara lapisan batuan. Saluran limpasannya belum tertata rapi oleh drainase yang kedap air dengan debit relatif kecil. Permukaan air tanah sangat dangkal, dibagian atas pemukiman hampir rata dengan tanah permukaan dan dibagian bawah lokasi bencana muka air tanah mempunyai kedalaman antara 2-3 m. Tanah permukaan sangat basah karena melimpahnya air permukaan sehingga kestabilan tanah berkurang.

 

3. Kerentanan gerakan tanah:

Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta bulan Januari 2015 (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana termasuk Zona Potensi Kerentanan Gerakan Tanah Menengah–Tinggi, artinya pada zona ini berpotensi terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan. Pada zona ini gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

4. Kondisi Bencana dan Akibat yang Ditimbulkan:

Gerakan tanah yang terjadi di Kampung Giriloyo, Desa Wukirsari berupa rayapan dan nendatan tanah pada lereng yang dilalui jalan penghubung antar kampung, nendatan tanah mencapai kedalaman sekitar 2 meter. Arah longsoran N 230 E, retakan pada tanah yang bergerak masih terus terjadi, beberapa pohon jati miring dan bergerak ke bawah lereng, serta bergesernya bongkah breksi yang menumpang di atas tanah pelapukan. Pada lereng bagian atas terdapat mata air yang muncul pada kontak perlapisan batuan yang alirannya mengarah ke tubuh longsoran, sedangkan pada bagian bawah lereng terdapat rembasan air. Nendatan ini telah memutus jalan penghubung antar kampung. Rumah yang terancam gerakan tanah di wilayah ini sebanyak 25 (dua puluh lima) rumah (Informasi BPBD setempat) di Dusun Giriloyo.

Pada saat dilakukan pemeriksaan gerakan tanah bersama aparat pemerintahan dan penduduk setempat, jalan penghubung telah diperbaiki namun tetap melintasi zona longsoran, rumah-rumah yang terancam masih dihuni, retakan pada tanah masih berkembang dan saluran drainase yang rusak belum diperbaiki.

 

5. Faktor penyebab gerakan tanah:

Secara umum faktor penyebab terjadinya gerakan tanah di daerah pemeriksaan antara lain adalah:

  • Curah hujan dengan intensitas tinggi dan lama yang turun semakin memicu terjadinya gerakan tanah;
  • Sifat tanah pelapukan yang sarang dan gembur dengan kemampuan meloloskan air yang tinggi dan berada di atas batuan dasar yang lebih kedap. Kontak antar keduanya menjadi bidang lemah yang berfungsi sebagai bidang gelincir gerakan tanah;
  • Kurang tertatanya sistem drainase di bagian atas lereng terutama yang terhubung dengan mataair, serta drainase dari pembuangan limbah rumah tangga dan air hujan yang tidak kedap air, sehingga aliran air permukaan menjenuhi tanah sehinga kestabilan tanah berkurang.

 

6. Mekanisme Terjadinya Gerakan Tanah:

Gerakan tanah di Kp. Giriloyo terjadi pada lokasi yang disusun oleh tanah pelapukan bersifat sarang dan berada di atas batuan dasar yang bersifat lebih kedap (kurang menyerap air). Curah hujan yang tinggi yang meresap dan menjenuhi tanah permukaan menambah beban pada lereng dan memicu terjadinya retakan dan nendatan pada tanah. Aliran air permukaan yang melalui zona retakan tersebut meresap ke dalam tanah sehingga menambah penjenuhan dan peningkatan bobot massa tanah. Kondisi ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan air pori dan berkurangnya daya ikat tanah. Retakan yang terbentuk dan aliran air permukaan yang mengalir ke dalam retakan mengakibatkan pembebanan terus bertambah, sehingga gerakan tanah semakin intensif.

 

7. Kesimpulan Rekomendasi Teknis:

 

A. Kesimpulan:

Berdasarkan hasil pemeriksaan lapangan, dapat disimpulkan sebagai berikut:

  • Gerakan tanah yang terjadi berupa rayapan dan nendatan tanah;
  • Gerakan tanah mengakibatkan terputusnya jalan penghubung antar kampung;
  • Gerakan tanah sementara ini sudah berhenti, namun berpotensi bergerak kembali jika terjadi hujan lebat karena air masuk ke dalam retakan tanah.

B. Rekomendasi:

  • Selalu meningkatkan kewaspadaan bagi penduduk terutama pada saat dan setelah hujan lebat yang berlangsung lama;
  • Masyarakat diharapkan terus memantau intensitas perkembangan retakan yang terjadi pada tubuh longsorannya, apabila retakan terus berkembang diharapkan segera mengungsi ke tempat yang lebih aman;
  • Segera menutup retakan dengan tanah lempung yang dipadatkan agar air permukaan tidak masuk ke dalam retakan;
  • Penataan aliran air permukaan, baik air hujan, air dari mata air, maupun air limbah dari rumah tangga dengan sistem aliran yang kedap air, air langsung disalurkan ke sungai utama;
  • Dibuat tembok penahan tebing (retaining wall) yang dilengkapi dengan saluran pengering di bawah dan di atas retakan;
  • Sebaiknya 25 rumah yang terancam terkena dampak gerakan tanah di relokasi ke tempat yang aman dari ancaman gerakan tanah.

Komentar atas Laporan Singkat Hasil Pemeriksaan Gerakan Tanah Di Desa Wukirsari

Formulir Penulisan Komentar

Nama
Alamat e-mail
Komentar
Isikan kode Captcha di atas
 

Komentar Terkini

Media Sosial

FacebookTwitterYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah Pengunjung

Transparansi APBDes

Profil Desa Wukirsari